FMIPA UPR dan LP2M Unmul Bahas Pengembangan Model Spasial untuk Mendukung Kebijakan Ketahanan Pangan di Kalimantan


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Palangka Raya bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Mulawarman menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Analisis Spasial Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota di Pulau Kalimantan melalui Pengembangan Model Geographically Weighted Weibull Regression (GWWR). Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung PPIIG Universitas Palangka Raya pada Selasa, 30 Juni 2026.

FGD menghadirkan Dr. Suyitno sebagai narasumber utama dengan sesi diskusi yang dipandu oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FMIPA UPR, Made Dirgantara, S.Si., M.Si. Forum ini menjadi wadah bagi akademisi dan pemangku kepentingan untuk membahas pengembangan model analisis spasial dalam mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi tingkat ketahanan pangan di berbagai kabupaten dan kota di Pulau Kalimantan.

Dalam pemaparannya, Dr. Suyitno menjelaskan bahwa penelitian memanfaatkan pendekatan Geographically Weighted Weibull Regression (GWWR) untuk mengungkap variasi karakteristik ketahanan pangan di setiap wilayah. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan informasi yang lebih rinci sehingga dapat menjadi landasan dalam merumuskan kebijakan yang sesuai dengan kondisi lokal masing-masing daerah.

Isu ketahanan pangan dinilai semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan pembangunan berkelanjutan, terlebih dengan peran strategis Pulau Kalimantan sebagai kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Oleh karena itu, kebijakan berbasis data dan hasil penelitian menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat sistem pangan regional.

Data Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Nasional (PKKPN) Tahun 2024 menunjukkan bahwa 45 dari 56 kabupaten/kota di Kalimantan atau sekitar 80,36 persen telah berada pada kategori tahan hingga sangat tahan pangan. Sementara itu, masih terdapat 11 kabupaten/kota atau sekitar 19,64 persen yang masuk kategori rentan hingga agak tahan pangan, sehingga memerlukan strategi penanganan yang lebih terarah.

Kegiatan ini diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan, antara lain perwakilan Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah, tenaga ahli di bidang ketahanan pangan, akademisi, serta instansi terkait lainnya.

Selama sesi diskusi, peserta memberikan berbagai masukan untuk menyempurnakan model penelitian. Beberapa usulan yang mengemuka antara lain memasukkan indikator pertumbuhan ekonomi daerah, tingkat pendidikan perempuan usia produktif, serta literasi digital masyarakat sebagai variabel pendukung karena dinilai memiliki keterkaitan dengan akses informasi dan kemampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pangan.

Dari hasil pembahasan, forum menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk pengembangan model GWWR. Faktor-faktor seperti kondisi ekonomi, tingkat pendidikan, pola konsumsi masyarakat, produksi pangan lokal, sistem distribusi pangan, hingga optimalisasi pemanfaatan pekarangan rumah tangga dinilai perlu dipertimbangkan agar model yang dibangun mampu memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai ketahanan pangan di setiap wilayah.

Melalui kolaborasi ini, LP2M Universitas Mulawarman dan FMIPA Universitas Palangka Raya menegaskan komitmennya dalam menghasilkan riset yang mendukung pembangunan daerah berbasis data dan bukti ilmiah. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan ketahanan pangan yang lebih efektif, adaptif, dan sesuai dengan karakteristik masing-masing kabupaten dan kota di Pulau Kalimantan.

Editor : Tri. H.S

<